Thursday, December 13, 2012

HELLO GOODBYE: gelombang korea


Sekali lagi Mustafa tertarik untuk menonton film Indonesia satu ini karena tampak memberikan sesuatu yang berbeda dan Mustafa merasa harus menjadi saksi atas sesuatu yang terlihat hebat dan keren. Walaupun Mustafa baru sempat menjadi saksi saat HELLOGOODBYE sudah tayang hampir 2 minggu, dan tentu saja peminatnya hanya sedikit. Di dalam studio hanya terisi 6 kursi, 2 kursi dipakai pasangan muda di pojok belakang sana, dan 2 kursi lainnya yang sedikit tengah pun hanya bertahan sampai pertengahan film. Yak, inilah dia, HELLOGOODBYE.

bhoki.files.wordpress.com

Cerita HELLOGOODBYE sebenarnya sederhana, saking sederhananya sampai-sampai Mustafa tidak bisa berkata banyak tentang isi ceritanya. Indah, seorang pekerja KBRI untuk Busan, harus merawat Abi, seorang ABK berkebangsaan Indonesia yang terdampar di dermaga Busan. Seorang pria dan seorang wanita di sebuah film produksi Indonesia, apalagi yang bisa kita harapkan? Tentu saja di akhirnya akan ada cinta. Biasanya penonton film dengan ide cerita besar seperti ini berharap bisa menikmati proses sampai terjadinya cinta dengan problematikanya yang menarik dan menggelikan. Teruslah berharap, karena menikmati HELLOGOODBYE bukanlah perkara mudah.

HELLOGOODBYE dinilai Mustafa sebagai film yang ingin menjadi film alternatif, yang tentunya juga ingin bersaing di kancah internasional. Jadi ya nada-nada filmnya juga mengikuti nada film asing yang sepi dengan pergerakan kamera yang sangat minim dan bahkan hampir statis. Mustafa menyukai film yang sepi dengan kamera statis, karena Mustafa berkesempatan untuk menikmati detail setiap gambar yang disajikan di layar. Selain itu Mustafa juga selalu menemukan kejutan-kejutan untuk mengimbangi sepinya film tersebut, yang Mustafa pikir sebagai strategi sutradara agar penonton tidak bosan. Nah, di HELLOGOODBYE, Mustafa tidak menemukan kejutan seperti yang dia harapkan. Tidak ada kejadian-kejadian ‘nakal’ yang Mustafa temukan atau permainan akting yang mendadak menjadi keren. Tidak ada. Hanya ada adegan Santa Claus batuk-batuk di rumah sakit, dan itu pun tidak keren, malah terkesan memaksakan. Permainan aktingnya bagaimana? Wah, itu…datar sih. Dua pemeran utama ingin menciptakan karakter yang dingin dan ‘cool’, tapi ya njuk jadi terlalu dingin tanpa emosi. Aaahahahahahaaaa. Begitu pula dengan beberapa peran pembantu lainnya, sama saja. Jadi dari sisi alur cerita dan teknik peran, film ini lemah. Lemah!

Apa kemudian yang menarik dari HELLOGOODBYE? Mustafa melihat kalau film ini mengandalkan pesona Korea Selatan yang sedang naik daun di dunia internasional, dan tidak boleh ada yang menyangkal itu. Kota yang tertangkap di film ini adalah Busan, kota kecil yang cantik dan terkenal dengan Busan Film Festival nya. Ya, Busan Film Festival, dan Mustafa sudah bisa menduganya. Sayangnya setting yang ‘mewah’ ini tampak sia-sia karena tidak dimanfaatkan dengan maksimal, tidak ada momen dari Busan yang sangat ikonik dan menggugah decak kagum yang alay, semuanya menjadi so-so. Busan hanya menjadi kota kecil seperti Atambua dengan kesepiannya masing-masing. Selain kotanya sendiri, Korea juga mengeluarkan salah satu artis koreanya, entah dia itu penyanyi atau aktor, sepertinya namanya Eru, dan dia tampan, hanya saja Eru bukan tipenya Mustafa. Pesona Eru ini juga kurang dimainkan, malah semakin membuat film ini aneh dan maksa. Menjelang akhir film, si sutradara HELLOGOODBYE seperti membuatkan videoklip untuk si Eru ini. Hadeuhhhh!

HELLOGOODBYE meskipun dianggap Mustafa adalah film gagal, tetap saja dinilai sebagai film yang memberikan contoh yang baik. Seperti ini, jika kamu ingin karyamu ditayangkan di festival film Cannes, misalnya, ya produksilah film di Cannes langsung, ambil bagian yang menarik dari sisi Cannes, ambil tokoh kota itu, buat konsep yang sedikit nyentrik, eksekusi, dan voila! kesempatan untuk ditayangkan di festival film bergengsi pun akan semakin besar. Paling tidak ada usahanya. Ya, walaupun Mustafa tidak menyarankan untuk menonton HELLOGOODBYE, tetapi film ini tetaplah bagus, karena sudah menjadi film, tidak hanya berupa naskah dan ide saja. Tepuk tangan! (curcol)  

1 comment: