2012 seperti membuktikan kalau ternyata perfilman Indonesia masih sangat hidup. Mustafa melihat hal itu dari animo masyarakat yang rela mengantri dan menonton satu judul film berulang kali. Mustafa melihat dengan kedua mata sendiri di kota nyaman bernama Jogja dan melalui lini masa Twitter. Menakjubkan. Film yang menjadi perhatian Mustafa adalah 5CM.

5CM bercerita tentang persahabatan lima muda-mudi yang menemukan kejenuhan dari persahabatan mereka sendiri sehingga memutuskan untuk melakukan perjalanan yang sama sekali baru bagi mereka, gunung Mahameru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Ceritanya tentu saja tidak melulu tentang perjalanan mereka menaiki gunung, ada berbagai bumbu komedi, percintaan, sampai bumbu motifasi diri ala Mario Teguh. Mari kita lihat bagaimana pendapat Mustafa tentang film ini.
Mustafa menganggap kalau film ini adalah film yang oke, tak lain dan tak bukan tentu saja karena Mustafa masih percaya dengan sutradara bernama Rizal Mantovani. Kebiasaan si sutradara mengarahkan videoklip tentu saja berpengaruh juga pada hasil visual yang disajikan ketika dia mengarahkan sebuah film panjang, filmnya jadi seperti videoklip panjang. Mulai dari pergerakan kamera, tempo para aktor-aktris yang berperan dengan efektif, ekspersi yang tidak berlebihan, sampai warna yang dikeluarkan di layar. Sungguh menyenangkan bisa menemukan film yang memanjakan mata seperti ini.
Tentu saja sebagai sutradara yang berangkat dari videoklip, Rizal sangat memperhatikan visual, dan itu menghasilkan gambar yang memang keren. Sayang sekali sebuah film tidak hanya hanya dinikmati dari gambar yang dihasilkan, tetapi dari percakapan para pemain yang diproduksi dari naskah. Mustafa merasa naskah yang dibawanya membuat para aktor-aktris menjadi tidak natural. Ada beberapa percakapan yang tidak akan ditemui di kehidupan nyata, karena nantinya akan menjadi sangat berlebihan. Sahut menyahut yang terlalu dibuat-buat membuat Mustafa terpingkal-pingkal tidak percaya, dan itu diulang dua kali. Sahut menyahut yang dimaksudkan Mustafa adalah sahut menyahut tentang motivasi pribadi, yang karena namanya juga pribadi, jadi ya seharusnya hanya dipahami oleh satu pribadi saja. Lha ini, masa' motivasi pribadi sahut-sahutan, kan yo lucu toh ya. Satu lagi ketika para aktor-aktris berbicara tentang kecintaannya pada Indonesia, mereka semua mengumbar janjinya dengan disaksikan oleh banyak pendaki lain yang hening tak berucap, kemudian seusai berjanji, semua bersorak. Oh, sangat palsu sekali.
Mustafa cucok dengan sutradara, tetapi tidak cucok dengan sang produser yang berasal dari keluarga Soraya. Film yang diproduksi oleh keluarga Soraya apabila Mustafa lihat kembali ke belakang, banyak sekali yang mengumbar barang-barang mewah, dan itu sebenarnya tidak baik untuk mental bangsa Indonesia. Jadi apabila si tokoh berbicara tentang keindonesiaan tetapi rumahnya sangat wow dan mengendarai Aston Martin yang seharusnya hanya boleh dikendarai oleh James Bond, sedikit sulit diterima oleh Mustafa. Ya sebenarnya barang mewah seperti ini sudah mucul sejak Soraya grup itu memproduksi film Dono, Kasino, Indro. Bayangkan Dono, Kasino, Indro yang selalu mengaku tidak punya uang tetpi mengontrak rumah besar berlantai dua. Oh, wow! Ya memaklumkannya mudah sih, lokasi yang besar dan luas tentu saja memudahkan produksi film dengan peralatan yang tentu saja tidak sederhana dan cukup merepotkan, dan sepertinya secara estetika, barang mewah lebih menarik dilihat. Sepertinya. Sebenarnya ya ndak juga sih, tergantung kepiawaian kita saja mengolahnya jadi menarik. Eciyeeehhh.
Tetapi tentu saja 5CM adalah sebuah film (yang berangkat dari novel) dan tentunya mengandung banyak hal yang sah apabila banyak hal yang tidak sama dengan yang kita temui di kehidupan nyata. Jadi, masalah naskah yang dipermasalahkan Mustafa tadi itu, ya, sah juga jika ingin dibuatkan pemakluman, walaupun sebenarnya Mustafa tidak terima jika dimaklumkan. Ayolah, kejadian 'batu jatuh' sebelum mencapai puncak itu sungguh memalukan, bagaimana mungkin tidak ada orang lain yang mau menolong satu kelompok yang sedang mengalami musibah. Ini menghina Mustafa yang memiliki teman seorang pendaki gunung handal. Secara logikanpun tidak masuk diakal. Kecuali apabila gunung itu ditemukan sangat sepi pengunjung, kenyataanya, tidak jauh dari mereka pun ada sekelompok pendaki juga. Astaga.
Sebenarnya Mustafa sudah sangat menantikan film ini, tentu saja tidak lain dan tidak bukan karena faktor Pevita Pearce yang terlibat sebagai aktris. Luar biasa. Mustafa mengenal Pevita dari situs Instagram, foto-fotonya yang menggemaskan membuat Mustafa terpikat, dan kini dia dapat melihat aktris idolanya di layar lebar. Ternyata, Pevita tidak mendapat banyak bicara, tetapi dia harus lihai memainkan ekspresi wajah, dan dia memang sangat keren sekali berakting. Cantik, menggemaskan, dan pandai bersandiwara, siapa yang tidak terpikat dengannya. Oh iya, Herjunot juga tampan sekali, uwooowww...
Sungguh ini film yang menyenangkan. Mustafa sangat bahagia dengan 5CM.


No comments:
Post a Comment