Dari awal November Mustafa sudah menunggu film ini, melihat trailer di youtube berulang-ulang, melihat sontrek Sokola Rimba yang entah dibawakan siapa, sampai menanti tweets dari Riri Riza. Bingkai gerak yang tertangkap dari video promosi Sokola Rimba sangat menarik, lensa bisa menangkap keceriaan para bocah rimba dan menariknya hutan di Jambi sana. Akhirnya, 21 November Sokola Rimba dirilis, dan Mustafa masih harus menunggu berminggu-minggu kemudian untuk nonton. Semoga penantian Mustafa tidak sia-sia.
Ini dia, Sokola Rimba.
Ceritanya menarik, tentang seorang pegawai LSM yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di kedalaman hutan Jambi. Kemudian kepentok dengan penolakan dari warga hutan dan para pemilik modal yang ingin menggusur hutan dan mengganti menjadi ladang kelapa sawit. Ya pokoknya bercerita tentang bagaimana perjuangan si Butet ini diterima oleh warga hutan dan bisa sekaligus berjuang mempertahankan ekosistem hutan Jambi. Gitu dah pokoknya ceritanya.
Yang paling menarik dari cerita Sokola Rimba bagi Mustafa adalah kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat rimba. Bahwa sentimen antar suku daerah satu dengan yang lain masih ada. Ya tidak di hutan pun sentimen antar suku - antar kampung juga bisa - masih terjadi. Merasa sukunya lebih penting dari suku lain yang berakibat perang antar suku adalah hal konyol yang masih sering terjadi di dunia modern.
Bahwa sopan santun itu tidak berbicara dengan orang baru sambil berdiri, harus jongkok. Jadi kita tuh harus rendah diri dulu, ndak boleh langsung sombong kalo ketemu orang lain, supaya mereka merasa dihormati dan mau membuka diri. Harus sabar, tidak tergesagesa merasa jagoan dan lebih tau.
Bahwa ada yang namanya upacara memanjat pohon madu yang bisa berakibat fatal. Ya ini juga terjadi ya di dunia modern, upacara sebelum melakukan sesuatu itu seperti selametan dulu sebelum mbangun rumah atau sebelum tinggal di rumah baru. Slametan tuh juga fatal loh, kan kita selametan di lingkungan baru, kalau kita selametannya cuma pakek nasi putih sama telur aja nantik kita dikira pelit lalu dimusuhi. Nah kalau kita selametan pakek nasi putih lengkap sama ikan dan ayam dan mungkin daging domba nantik dikira sombong lalu dimusuhi juga. Padahal intinya adalah acara untuk membuat diri kita diterima di alam yang berbeda, alam perumahan untuk dunia modern, dan alam pohon madu untuk sokola rimba.
Kebudayaannya sama saja antara manusia rimba dan manusia modern, hanya caranya saja yang berbeda. Dan itu harusnya tidak membuat manusia modern merasa lebih baik dari manusia rimba. Oke? jadi pesan yang diterima Mustafa dari Sokola Rimba adalah sadar diri, jangan merasa lebih baik dari orang lain. (kayanya sih beda sama apa yang ingin disampaikan Riri Riza, tapi namanya juga interpretasi).
Bagaimana dengan teknis film ini? Prisia Nasution kayanya udah pas banget dah bentuknya buat jadi tenaga LSM yang masuk pedalaman gitu, cantiknya dapet tapi cutting edge nya juga dapet. Nah gimana tuh Mustafa menjelaskan cutting edge, bingung dah. Beberapa kali Prisia berakting berlebihan ala FTV, tapi ya ndak banyak dan ndak mengganggu juga sih, masih enak aja dinikmati aktingnya. Prisia sih sudah biasa bekerja dengan kamera, jadi dia bisa nyaman berakting, beda banget dengan orang rimba yang tidak biasa dengan kamera. Berkali-kali bocor matanya menatap kamera, Mustafa membayangkan pasti riweuh banget ya suasana syuting itu, banyak pengalih perhatian buat para aktor. Hasilnya apa? ketika Prisia disandingkan dengan orang rimba, ya terasa tidak imbang permainan aktingnya. Mungkin seharusnya Prisia menurunkan kualitas aktingnya sedikit, tapi kalok kualitas akting diturunkan jadinya ndak bagus. Ah, serba sulit memang. Belum lagi yang berperan sebagai atasan Butet di LSM, haduhhh...tinggi banget kualitas aktingnya, kaga terkira. Berasa dia yang jadi tokoh utamanya.
Sulit bagi Mustafa untuk tidak membandingkan Atambua dan Jambi. Di Atambua 39 derajat selsius, semua pemeran adalah amatir, semua akting adalah amatir, tetapi hasilnya malah lebih bagus. Karena semua berakting imbang, tidak ada yang lebih tinggi kemampuannya. Begitu...
Nah, ini seperti baru ini, ada animasi di awal dan di tengah film. Di awal film animasinya menarik, gambarnya bagus, benar-benar menggambarkan apa yang akan penonton temui di dalam filmnya, musik pendukungnya pun berasa pas benar. Kalau di tengah film sayangnya kualitasnya tidak begitu bagus, walaupun sangat beralasan sekali kenapa Riri Riza menggunakan animasi untuk menjelaskan Pohon Madu. Animasi yang digunakan memang bisa memvisualkan apa yang ingin disampaikan sutradara, sayang eksekusinya kurang baik. Jika saja bisa disamakan dengan animasi yang kita temui di pengantar film, pasti kece banget dah,
Banyak orang yang memanfaatkan momen Sokola Rimba menjadi gambaran guru yang ideal untuk indonesia. Guru itu harusnya mengabdi. Bagus untuk ditonton para guru. Bagus untuk ditonton para pelajar. Mungkin juga bagus untuk ditonton para fresh graduate yang bingung mau ngapain setelah lulus kuliah. Ya ini film memang bagus untuk ditonton semuanya, karena film ini bagus. Dan Butet di sini tidak semata-mata menjadi seorang guru, tetapi menjadi seorang pendamping. Nah, guru-guru kalau mau memperbaiki pendidikan ya jangan semata-mata menjadi guru, tetapi jadilah pendamping, karena menjadi pendamping menyimpan lebih banyak tanggung jawab daripada menjadi guru. Ya kalau belum diberi jodoh mendampingi suami/istri, ya udah, jadi pendamping buat anak-anak rimba aja.
![]() |
| Riri Riza, sutradara Sokola Rimba dan poster filmnya yang sayang ndak sekeren sutradaranya. (antarafoto.com) |
![]() |
| Suasana Syuting Sokola Rimba. Jadi Prisia selain berakting, juga harus bisa membuat anak-anak tengil itu ndak ngeliatin kamera dan kru. (youtube.com) |






