Friday, December 6, 2013

SOKOLA RIMBA: Butet, oh, Butet.

Setelah gemrobyos penuh keringat merasakan panasnya bumi Atambua, kali ini Mustafa merasa pliket kurang mandi terlalu lama bermain di hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Penuh harap Mustafa tidak tergigit nyamuk tse-tse yang bisa membuat Mustafa mengantuk dan kelewatan film ini.

Dari awal November Mustafa sudah menunggu film ini, melihat trailer di youtube berulang-ulang, melihat sontrek Sokola Rimba yang entah dibawakan siapa, sampai menanti tweets dari Riri Riza. Bingkai gerak yang tertangkap dari video promosi Sokola Rimba sangat menarik, lensa bisa menangkap keceriaan para bocah rimba dan menariknya hutan di Jambi sana. Akhirnya, 21 November Sokola Rimba dirilis, dan Mustafa masih harus menunggu berminggu-minggu kemudian untuk nonton. Semoga penantian Mustafa tidak sia-sia.

Ini dia, Sokola Rimba.

Ceritanya menarik, tentang seorang pegawai LSM yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di kedalaman hutan Jambi. Kemudian kepentok dengan penolakan dari warga hutan dan para pemilik modal yang ingin menggusur hutan dan mengganti menjadi ladang kelapa sawit. Ya pokoknya bercerita tentang bagaimana perjuangan si Butet ini diterima oleh warga hutan dan bisa sekaligus berjuang mempertahankan ekosistem hutan Jambi. Gitu dah pokoknya ceritanya.

Yang paling menarik dari cerita Sokola Rimba bagi Mustafa adalah kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat rimba. Bahwa sentimen antar suku daerah satu dengan yang lain masih ada. Ya tidak di hutan pun sentimen antar suku - antar kampung juga bisa - masih terjadi. Merasa sukunya lebih penting dari suku lain yang berakibat perang antar suku adalah hal konyol yang masih sering terjadi di dunia modern.

Bahwa sopan santun itu tidak berbicara dengan orang baru sambil berdiri, harus jongkok. Jadi kita tuh harus rendah diri dulu, ndak boleh langsung sombong kalo ketemu orang lain, supaya mereka merasa dihormati dan mau membuka diri. Harus sabar, tidak tergesagesa merasa jagoan dan lebih tau.

Bahwa ada yang namanya upacara memanjat pohon madu yang bisa berakibat fatal. Ya ini juga terjadi ya di dunia modern, upacara sebelum melakukan sesuatu itu seperti selametan dulu sebelum mbangun rumah atau sebelum tinggal di rumah baru. Slametan tuh juga fatal loh, kan kita selametan di lingkungan baru, kalau kita selametannya cuma pakek nasi putih sama telur aja nantik kita dikira pelit lalu dimusuhi. Nah kalau kita selametan pakek nasi putih lengkap sama ikan dan ayam dan mungkin daging domba nantik dikira sombong lalu dimusuhi juga. Padahal intinya adalah acara untuk membuat diri kita diterima di alam yang berbeda, alam perumahan untuk dunia modern, dan alam pohon madu untuk sokola rimba.

Kebudayaannya sama saja antara manusia rimba dan manusia modern, hanya caranya saja yang berbeda. Dan itu harusnya tidak membuat manusia modern merasa lebih baik dari manusia rimba. Oke? jadi pesan yang diterima Mustafa dari Sokola Rimba adalah sadar diri, jangan merasa lebih baik dari orang lain. (kayanya sih beda sama apa yang ingin disampaikan Riri Riza, tapi namanya juga interpretasi).

Bagaimana dengan teknis film ini? Prisia Nasution kayanya udah pas banget dah bentuknya buat jadi tenaga LSM yang masuk pedalaman gitu, cantiknya dapet tapi cutting edge nya juga dapet. Nah gimana tuh Mustafa menjelaskan cutting edge, bingung dah. Beberapa kali Prisia berakting berlebihan ala FTV, tapi ya ndak banyak dan ndak mengganggu juga sih, masih enak aja dinikmati aktingnya. Prisia sih sudah biasa bekerja dengan kamera, jadi dia bisa nyaman berakting, beda banget dengan orang rimba yang tidak biasa dengan kamera. Berkali-kali bocor matanya menatap kamera, Mustafa membayangkan pasti riweuh banget ya suasana syuting itu, banyak pengalih perhatian buat para aktor. Hasilnya apa? ketika Prisia disandingkan dengan orang rimba, ya terasa tidak imbang permainan aktingnya. Mungkin seharusnya Prisia menurunkan kualitas aktingnya sedikit, tapi kalok kualitas akting diturunkan jadinya ndak bagus. Ah, serba sulit memang. Belum lagi yang berperan sebagai atasan Butet di LSM, haduhhh...tinggi banget kualitas aktingnya, kaga terkira. Berasa dia yang jadi tokoh utamanya.  
Sulit bagi Mustafa untuk tidak membandingkan Atambua dan Jambi. Di Atambua 39 derajat selsius, semua pemeran adalah amatir, semua akting adalah amatir, tetapi hasilnya malah lebih bagus. Karena semua berakting imbang, tidak ada yang lebih tinggi kemampuannya. Begitu...

Nah, ini seperti baru ini, ada animasi di awal dan di tengah film. Di awal film animasinya menarik, gambarnya bagus, benar-benar menggambarkan apa yang akan penonton temui di dalam filmnya, musik pendukungnya pun berasa pas benar. Kalau di tengah film sayangnya kualitasnya tidak begitu bagus, walaupun sangat beralasan sekali kenapa Riri Riza menggunakan animasi untuk menjelaskan Pohon Madu. Animasi yang digunakan memang bisa memvisualkan apa yang ingin disampaikan sutradara, sayang eksekusinya kurang baik. Jika saja bisa disamakan dengan animasi yang kita temui di pengantar film, pasti kece banget dah,

Banyak orang yang memanfaatkan momen Sokola Rimba menjadi gambaran guru yang ideal untuk indonesia. Guru itu harusnya mengabdi. Bagus untuk ditonton para guru. Bagus untuk ditonton para pelajar. Mungkin juga bagus untuk ditonton para fresh graduate yang bingung mau ngapain setelah lulus kuliah. Ya ini film memang bagus untuk ditonton semuanya, karena film ini bagus. Dan Butet di sini tidak semata-mata menjadi seorang guru, tetapi menjadi seorang pendamping. Nah, guru-guru kalau mau memperbaiki pendidikan ya jangan semata-mata menjadi guru, tetapi jadilah pendamping, karena menjadi pendamping menyimpan lebih banyak tanggung jawab daripada menjadi guru. Ya kalau belum diberi jodoh mendampingi suami/istri, ya udah, jadi pendamping buat anak-anak rimba aja.

Riri Riza, sutradara Sokola Rimba dan poster filmnya yang sayang
ndak sekeren sutradaranya.
(antarafoto.com)




Suasana Syuting Sokola Rimba. Jadi Prisia selain berakting, juga harus bisa
membuat anak-anak tengil itu ndak ngeliatin kamera dan kru.
(youtube.com)

Sunday, November 10, 2013

LIKE CRAZY: greed

Like Crazy arahan Drake Doremus tidak pernah menjadi prioritas Mustafa untuk ditonton, sampai di satu hary yang suram Mustafa menemukan Musdalifah sedang asik menonton Like Crazy. Karena tertinggal beberapa menit, Mustafa mencari tahu tentang film ini, dan ternyata ini film masuk Sundance Film Festival. Hummm...walaupun tidak menjadi jaminan, tetapi ini film pasti layak tonton. Akhirnya Mustafa tenggelam bersama Musdalifah dalam hubungan putus-nyambung Anna dan Jacob.

Anna tinggal di London, Jacob tinggal di America. Di saat bersama mereka jatuh cinta, di saat berpisah mereka juga jatuh cinta tapi punya punya idaman lain. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan cerita banyak melihat pada perjuangan Anna untuk mendapatkan kewarganegaraan Amerika. Ini film sempet bikin frustasi, karena melihat tokoh yang kurang memiliki kesabaran dan kepuasan atas perasaan saling memiliki.

Kalau Jacob cinta sama Anna, kenapa Jacob harus pacaran sama Jennifer Lawrence? ya walopun masuk akal sih kenapa Jacob mau sama Jennifer Lawrence. Kalau Anna cinta Jacob kenapa mau pacaran sama Simon? Terus uda pacaran sama Jennifer Lawrence, balik lagi ke Anna. Uda pacaran sama Simon, balik lagi ke Jacob. Jadi ya kayanya ceritanya ga penting sih. Cumak ngeliat orang putus nyambung doang. Mungkin pelajaran yang bisa dipetik adalah, jodoh tak akan lari walau ke mana. bah!

Walopun begitu ya, ini sutradara sebenernya asik loh. Dia menggambarkan kalau bahagia itu sederhana, cukup tidur-tiduran aja di kasur, terus seneng. terus tetiba sendirian di kasur terus sedih. ya gitu dah, seru sih sebenernya. Ini bikin yang nonton gemes dan sebal dan jatuh cinta dan benci. dan sedih, dan lain-lain. Jadi itu yang bikin sutradaranya jadi jago, menguras emosi. Tapi ya itu sih yang jadi masalah, ini cuma nyeritain orang pacaran putus-nyambung doang. Dan masuk Sundance film festival.

The Moffats

Wednesday, November 6, 2013

LOVELACE: klise yang mengagumkan

Film biopic acap kali membuat decak kagum Mustafa dan juga banyak orang. Kenapa? Mungkin karena dalam diri manusia itu memang sebenarnya punya keingintahuan pada urusan orang lain. Ya keingintahuan itu bisa untuk pembelajaran bagaimana seorang bisa sukses, usaha apa yang dilakukan, sampai ke refleksi diri pada kekurangan yang masing-masing kita miliki. Yang gawat kan kalok keingintahuan itu cumak jadi bahan gosip, jadinya ya ngomongin orang lain tanpa refleksi diri sama sekali. Nah, bagaimana dengan LOVELACE, film yang bercerita tentang sepak terjang pemain bokep profesional era 70an, Linda Lovelace?

Linda Lovelace awalnya gadis dengan didikan katholik yang cukup kuat, tidak boleh pulang larut malam, harus sopan terhadap orang lain, sopan berbusana, dan juga santun dalam berpakaian. Tetapi Linda itu pengen memberontak terhadap orangtuanya, karena kalok ndak berontak ya ndak kece. Walhasil dia membawa dirinya ke dalam masalah. Pulang larut malam dan membuatnya diusir. Cerita awalnya cukup klise dan tak ada yang mencengangkan. Sampai masalah yang lebih berat lagi menerpa hidupnya. 

Suaminya, Chuck, yang dikira seorang gentleman dengan pekerjaan yang cukup menghasilkan kebahagiaan ternyata seorang cecunguk kelas kakap. Pekerjaannya hilang dan tak ada uang untuk bertahan hidup. Namun selain cecunguk, ternyata Chuck adalah sosok yang pintar, dijual lah Linda kepada om-om hidung belang sebagai pemasukan tambahan. Masih kurang juga pendapatannya, dijual lagi Linda untuk menjadi seorang pemain film bokep profesional karena Chuck sadar kalau Linda memiliki keahlian khusus yang diimpikan oleh para pria mesum.

Dan ya, film Deep Throat yang dibintangi Linda Lovelace pun laris manis, dan Linda menjadi tenar. Melihat judul Deep Throat, pasti kita semua langsung tau apa keahlian khusus yang dimiliki Linda. 

Semua terlihat indah dan biasa saja, sampai di bagian tengah film, terungkap perjalanan Linda sebelum menjadi tenar yang sangat miris. Kisah miris ini diteruskan sampai setelah Linda tenar, ya, masih tetap miris. Ajaran katholik yang diajarkan oleh mamanya untuk terus setia pada suami dan bersyukur membuat Linda enggan melawan suami, apalagi bercerai, karena Linda adalah keluarga katolik, bukan protestan. 

Ya itu ceritanya Lovelace. Sebenarna menarik kisahnya, hanya saja si sutradara Jefferey Friedman dan Rob Epstein ini terlihat tergesa-gesa untuk mengakghiri kisahnya. Padahal ada sahabat Linda, Patsy, yang selalu mendukung Linda, tapi kurang terekspos dukungannya. Patsy hanya menjadi "tempelan" yang tidak berguna akhirnya karena tidak memiliki kontribusi apa-apa kecuali hanya membuat Linda terlihat tampak tak berdaya. Pertemuan Linda dengan Chuck adalah kisah yang memilukan, tetapi setelah Linda berhasil kabur dari Chuck, Linda tetap memutuskan untuk menikah. Gejolak batin dan trauma pasti dialami oleh Linda, tak ada secuil pun gambaran dari gejolak itu yang digambarkan. 

Tapi ya itu, ini hanya berdurasi 93 menit, tentu banyak cerita yang harus dilewati agar cerita menjadi kuat. Dan ya, ceritanya memang kuat. Bahkan penyesalan orang tua Linda cukup hanya digambarkan dengan ekspresi wajah dan gerakan tangan yang sangat meyakinkan membuat penonton merasakan penyesalan seperti apa yang mereka alami. Ini film bagus kok, nikmati saja dan rasakan pahitnya hidup orang lain supaya manis yang kita rasakan dalam hidup ini.

Tuh, seksi kan?

Monday, March 25, 2013

Amour: putus asa

Dalam suka dan duka, kaya dan papa ujarnya, dan ternyata tidak ada yang namanya kesabaran tak berujung.

Film dari Prancis ini dengan sukses membuat Mustafa merasakan apa yang dirasakan oleh si tokoh utama dalam film ini, seorang kakek di usia 80an yang dengan sabar melayani istrinya yang terserang stroke. Film yang sangat tipikal dari negeri eropa sana, gambar yang statis, alur yang lambat, ruang yang kosong, dan percakapan yang melelahkan menemani Mustafa sepanjang film dalam kebosanan yang abadi.

Emosi Mustafa dibangun sangat perlahan tapi pasti, sehingga kelelahan dan putus asa pun dirasakannya. Ingin rasanya mengakhiri film ini, tetapi apa daya, adegan pembuka yang membuat penasaran setengah mati jauh lebih dominan. Awalnya bahagia, pertengahan merasakan cinta yang hangat dan sangat, akhirnya putus asa.

Permainan akting yang natural, tidak terlihat kaku dan dibuat-buat - secara aktor aktrisnya adalah orang yang sudah sangat tua dan seusia dengan karakter yang ingin dicapai, tetap saja tidak membuat Mustafa merasa kagum. Tidak kagum lebih karena perasaan saat menonton film itu sudah sekarat banget bosannya, hampir mati, jadi ya permainan aktingpun dirasa memang sudah sepantasnya bagus. Ide ceritanya pun biasa saja, tidaklah spesial, maksudnya cerita semacam ini sudah biasa banget muncul di dalam sebuah film.

Lalu apa yang bikin film ini menarik?
Yang bikin film ini menarik hanya satu, bisa membuat penontonnya merasakan apa yang seharusnya dirasakan oleh si kakek dalam film ini, cinta kasih, kesepian, dan akhirnya putus asa. Begitulah kirakira Amour. Silahkan temanteman yang tertarik menyaksikan film ini menyiapkan cemilan yang super banyak supaya tidak mengantuk. Dan jangan lupa menyiapkan minuman juga ya, supaya tidak seret tenggorokannya.



Sunday, January 13, 2013

LES MISERABLES: dan penderitaan berkepanjangan

Mustafa sedikit gemetar mengetahui kalau novel klasik karya Victor Hugo ini kembali diangkat ke layar lebar dengan deretan aktor-aktris yang luar biasa. Walaupun dia dahulu kala lebih gemetar lagi ketika mendapat tugas untuk membaca novel itu kemudian diminta mereview untuk diujikan. Yang membuat gemetar karena novelnya sendiri sangatlah tebal hingga lebih dari 1000 halaman, itupun setelah pengurangan sana-sini karena penyesuaian dengan terjemahan dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris. Terima kasih pada penulis pintar yang mampu menyusun simplified version dari novel ini. Ini dia, Les Miserables.

Tidak perlu banyak Mustafa berbicara tentang isi cerita, karena seperti judulnya, semua tentang hidup yang mengenaskan dari beberapa tokoh yang terlibat di dalamnya. Berpusat pada seorang penjahat rendahan yang ketahuan mencuri sepotong roti dan dihukum penjara yang lamanya tidak masuk akal. Setelah bebas, dia tetap tidak bisa melenggang begitu saja, karena sipir tampan dan tegas itu ingin agar si mantan napi ini tetap melaksanakan kewajiban lapor rutinnya. Dia terus berlari dan berlari selama beberapa periode masa dan selama pelarian itu, dia pun bertemu dengan beberapa orang yang memiliki hidup mengenaskan pula.

Kira-kira seperti itu Kisah cerita Les Miserables yang novelnya diterbitkan pada tahun 1862 di Prancis nun jauh di sana. Pada tahun itu, semua karya sastra hampir memiliki nada yang sama, miskin, menderita, dan penuh hukuman. Kebaikan dan kejahatan selalu digambarkan hitam dan putih, belum ada penokohan abu-abu seperti era Batman di jaman sekarang. Kalok ndak baik, ya jahat. Cumak itu aja. Semangat hitam -putih itu di negara eropa dan Amerika sana sudah ditinggalkan sejak lama, sekarang jamannya Anti-hero dan juga Grey-hero, tetapi di Indonesia semangat hitam dan putih itu tentu saja tetap terpelihara.

Mari kita lihat di zaman Mustafa duduk di bangku SMP. Saat Mustafa gemar menonton televisi, acara yang sedang 'happening' banget ya tentu saja sinetron Tersanjung. Nada dari sinetronnya pun ndak jauh beda sama Les Miserables, penderitaan berkepanjangan sampai beberapa periode waktu dan turun temurun ke generasi penerusnya. Mulai dari si Jihan Fahira diceritakan masih gadis, sampai rambutnya sudah dicat putih menandakan uban dan memiliki cucu, tetapi wajahnya tetap saja imut. Dan Jihan Fahira itu ya di sinetron itu kok ya sedih terus sampai kalau tidak salah ingat 6 musim. Sekarang Mustafa menonton televisi hanya untuk acara-acara tertentu saja, dan Mustafa sadar kalau nada mengenaskan di persinetronan Indonesia tidaklah hilang. Sekarang diteruskan oleh Asmiranda, mulai dari Asmiranda gadis, sampai dia berjilbab. Sedih terus.

Mustafa penasaran dan ingin mencari tahu ada apa sebenarnya dengan penderitaan ini. Dengan kepala yang kosong dan hati yang lugu, Mustafa menyimpulkan kalau agama adalah penyebabnya. Sewaktu Les Miserables ditulis, pengaruh gereja di Eropa sedang bagus-bagusnya, kitab suci seperti menjadi pedoman hidup banyak orang. Nah, di kitab suci itu, Mustafa membicarakan alkitab, dibagi menjadi dua, perjanjian lama dan perjanjian baru, yang isinya juga seperti Les Miserables itu tadi. Perjanjian lama bercerita tentang baik dan buruk lengkap dengan hukumannya. Di perjanjian baru ceritanya fokus ke Yesus yang mengalami hari-hari mengenaskan sebelum naik ke surga.

Di negara barat, orang-orangnya memahami agama lebih dinamis, yang penting adalah penerapan nilai-nilai kebaikan di kehidupan nyata. Pedoman tetap di kitab suci, tetapi pandai memilah antara intisari pesan yang ingin disampaikan dengan sampah yang menyelimuti inti itu. Sekarang di Indonesia, betapa ngototnya masyarakat untuk terlihat 'fabulous' saat menghadiri misa di gereja dan dengan lihai menghakimi orang yang enggan datang beribadah ke rumah Tuhan. Jadi ya sudah jelas di sini, yang ke gereja itu kaum putih, yang tidak ke gereja kaum hitam. Cewe-cewe yang mbonceng tukang ojek masih ngangkang ya kaum hitam, tukang ojek yang membiarkan pelanggan wanitanya ngangkang ya kaum hitam juga. Salah pokoknya. Jadi ndak ada di Indonesia tu yang abu-abu. Makanya Asmiranda masih laku jugak. Bwahahahahahaaaaa...

Baiklah, mari kembali ke Les Miserables. Les Miserables ini disutradari oleh Tom Hooper, sutradara era 2000-an, yang melejit lewat THE KING'S SPEECH. Melejitnya tentu saja karena THE KING'S SPEECH menjadi film terbaik Oscar 2010. Sekarang LES MISERABLES kembali dinominasikan sebagai film terbaik oscar 2012, luar biasa. Memang luar biasa karena Tom Hooper ini sukses mengarahkan aktor-aktris untuk mengeluarkan semua kemampuan aktingnya dengan maksimal. Mulai dari ekspresi yang menghipnotis penonton untuk merasakan kesakitan Anne Hathaway sampai pilu yang ditunjukkan oleh raut wajah Hugh Jackman. Luar biasa.

Menurut rumor yang dihembuskan, para pemain ini menyanyikan naskahnya benar-benar dilakukan saat pengambilan gambar, jadi tidak dengan track yang direkam terpisah. Nah, kebayang pastinya usaha yang dikeluarkan oleh para pemeran untuk memecah fokus antara bernyanyi dan memainkan ekspresi wajah. Sungguh mengaduk perasaan.

Pada saat menonton film ini, Mustafa berdecak kagum atas keindahan di layar lebar sekaligus berdecak heran karena tidak sedikit penonton yang meninggalkan kursi bioskop di tengah-tengah pertunjukkan. Tetapi Mustafa tetap berusaha untuk positif dan tidak menghakimi, ya karena waktu sudah larut, mungkin mereka ingin segera pulang ke rumah agar tak ketinggalan menyaksikan Asmiranda. Uw yeah!