Monday, November 26, 2012

ATAMBUA 39 DERAJAT CELSIUS



Mustafa sudah tau film apa yang ingin ditontonnya begitu dia sampai di bioskop, bukan film tentang Dracula yang bisa berkilau seperti berlian, bukan pula film tentang agen rahasia yang menggunakan handphone android dalam melaksanakan tugasnya, melainkan film tentang kesepian dan idealisme besutan sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana. Ini dia, Atambua 39o Celsius.




Film yang ditayangkan pertama kali di sebuah festival film di Jepang pada bulan Oktober ini akhirnya tayang juga di tanah air pada bulan November. Kenapa sebuah film produksi Indonesia lebih dulu tayang di Jepang daripada di negeri asalnya sendiri? Pada sebuah sesi wawancara, Mustafa menjawab pertanyaan itu dengan sangat sederhana, “karena ini adalah film ATAMBUA 39o CELSIUS, bukan film NENEK GAYUNG, makanya tayang di luar negeri dulu,” ujar Mustafa yang sebenarnya bukan siapa-siapa di produksi film ini. Mustafa juga menyatakan beberapa kemungkinan, salah satunya adalah karena film alternatif sejenis ini tidak akan mendapat sambutan yang layak di negeri Indonesia, makanya untuk membangun kepercayaan diri dan memberikan nilai lebih, film ini ditayangkan lebih dulu di negeri tetangga sehingga mendapat predikat kalau film ini sudah pernah tayang di festival film di Jepang dan bisa mencantumkan predikat itu di posternya.

Tetapi apakah Mustafa merasa pencantuman predikat telah tayang di Jepang itu akan mengangkat penjualan film itu? Ternyata tidak. Buktinya saat Mustafa menonton film itu, hanya ada 3 penonton yang bersamanya, dan itu cukup menunjukkan pada Mustafa kalau dari segi penjualan, ATAMBUA 39o CELSIUS sudah gagal total. Lebih bagus penjualan film RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN yang berisi kurang lebih 23 penonton bersamanya. Ada satu titik di saat Mustafa merasa judul ATAMBUA yang keren itu tidak menarik, “ya bolehlah kalau Riri Riza dan Mira Lesmana bisa mencari judul yang keren, tapi mereka sama sekali tidak memikirikan apakah judul itu menarik atau tidak.” Mustafa kemudian melanjutkan, “Saya terus terang lebih tertarik menonton film yang mengandung ‘Rintihan’ dan ‘Perawan’, itu brilliant, persetan dengan Kuntilanaknya,ujar Mustafa yang mendadak antusias mungkin karena sedang membayangkan “Perawan” dan “Rintihan” itu tadi.  

Mustafa sebagai penggemar film ATAMBUA ini sendiri pada awalnya sedikit kesulitan untuk menyukainya. Suasana yang sangat sepi dan berkepanjangan sempat membuat Mustafa putus asa. Apalagi ceritanya berlatar belakang perceraian Timor dengan Indonesia. Jadi begini, film ini bercerita tentang seorang pria yang sebenarnya tidak terima dengan perceraian Indonesia dengan Timor, sehingga dia memilih tinggal di Atambua, termasuk kawasan Indonesia, yang berbatasan dengan Timor. Dia tinggal dengan anak lelakinya yang sedang dalam fase labil dan selalu merindukan ibunya yang sudah menetap di Timor. Jadi sebenarnya cerita di film ini tentang pilihannya antara keyakinan keIndonesiaan dan keluarga. “oke, itu terdengar seperti cerita yang membosankan,” ujar Mustafa.

Yang menarik adalah semua aktor dan akrtis dalam film ini bukan aktor dan aktris lulusan asrama Punjabi, karena tidak ada yang terkenal di film ini. Semua pemain adalah orang lokal daerah sana, dan bahasa yang digunakan pun bahasa sana, dengan sedikit percampuran bahasa Indonesia yang tentunya sangat masuk akal. Tetapi sayang sekali karena permainan akting mereka pun tidaklah apik, ya jadinya hampir tidak ada bedanya dengan para aktor aktris cantik jebolan asrama Punjabi. Akhirnya Mustafa merasa kalau film ini terkesan dibuat terlalu buru-buru karena pengkarantinaan para aktor aktrisnya seperti kurang maksimal. Tapi itu sebenarnya usaha yang bagus dari Riri Riza dan mira Lesmana.

Duet Riza dan Mirles ini dengan sukses menangkap suasana Timor yang panas, gersang, sepi, miskin, dan membosankan. Mustafa sendiri dibuatnya tidak nyaman karena dia duduk enak di kursi empuk ruangan berpendingin sambil nyeruput minuman dingin di sebuah mall yang menawarkan banyak sekali belanjaan sementara kondisi orang-orang sana yang harus mengangkut batu bolak-balik berkilo-kilo meter dengan medan yang tidak nyaman tanpa alas kaki, kemudian tidur di dipan keras tanpa kasur, kepanasan, dan mungkin kalau mau beli coca cola pun harganya sangat mahal. Saat Mustafa mulai merasa tidak nyaman dengan hidupnya, filmnya bubar. Lalu kemudian Mustafa sadar dan mulai menikmati kembali hidupnya – yang artinya film ini terlalu singkat untuk menjadi bahan pemikiran kita semua, jiwa-jiwa yang korup. Ya, maksud Mustafa adalah kamu, Koruptor!

Secara keseluruhan film ini bagus, Mustafa bertepuk tangan. Bertepuk tangan sambil berdiri. Sendirian, karena yang nonton bareng Mustafa udah pada bubar. Dan akhirnya Mustafa mengantri untuk menonton TWILIGHT.

mustafa is watching