Mustafa
sudah tau film apa yang ingin ditontonnya begitu dia sampai di bioskop, bukan
film tentang Dracula yang bisa berkilau seperti berlian, bukan pula film
tentang agen rahasia yang menggunakan handphone android dalam melaksanakan tugasnya,
melainkan film tentang kesepian dan idealisme besutan sutradara Riri Riza dan
produser Mira Lesmana. Ini dia, Atambua 39o Celsius.
![]() |
Film
yang ditayangkan pertama kali di sebuah festival film di Jepang pada bulan
Oktober ini akhirnya tayang juga di tanah air pada bulan November. Kenapa
sebuah film produksi Indonesia lebih dulu tayang di Jepang daripada di negeri
asalnya sendiri? Pada sebuah sesi wawancara, Mustafa menjawab pertanyaan itu
dengan sangat sederhana, “karena ini adalah film ATAMBUA 39o CELSIUS,
bukan film NENEK GAYUNG, makanya tayang di luar negeri dulu,” ujar Mustafa yang
sebenarnya bukan siapa-siapa di produksi film ini. Mustafa juga menyatakan
beberapa kemungkinan, salah satunya adalah karena film alternatif sejenis ini
tidak akan mendapat sambutan yang layak di negeri Indonesia, makanya untuk
membangun kepercayaan diri dan memberikan nilai lebih, film ini ditayangkan
lebih dulu di negeri tetangga sehingga mendapat predikat kalau film ini sudah
pernah tayang di festival film di Jepang dan bisa mencantumkan predikat itu di
posternya.
Tetapi
apakah Mustafa merasa pencantuman predikat telah tayang di Jepang itu akan
mengangkat penjualan film itu? Ternyata tidak. Buktinya saat Mustafa menonton
film itu, hanya ada 3 penonton yang bersamanya, dan itu cukup menunjukkan pada Mustafa
kalau dari segi penjualan, ATAMBUA 39o CELSIUS sudah gagal total.
Lebih bagus penjualan film RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN yang berisi kurang lebih
23 penonton bersamanya. Ada satu titik di saat Mustafa merasa judul ATAMBUA
yang keren itu tidak menarik, “ya bolehlah kalau Riri Riza dan Mira Lesmana
bisa mencari judul yang keren, tapi mereka sama sekali tidak memikirikan apakah
judul itu menarik atau tidak.” Mustafa kemudian melanjutkan, “Saya terus terang
lebih tertarik menonton film yang mengandung ‘Rintihan’ dan ‘Perawan’, itu brilliant, persetan dengan
Kuntilanaknya,” ujar Mustafa yang
mendadak antusias mungkin karena sedang membayangkan “Perawan” dan “Rintihan”
itu tadi.
Mustafa
sebagai penggemar film ATAMBUA ini sendiri pada awalnya sedikit kesulitan untuk
menyukainya. Suasana yang sangat sepi dan berkepanjangan sempat membuat Mustafa
putus asa. Apalagi ceritanya berlatar belakang perceraian Timor dengan
Indonesia. Jadi begini, film ini bercerita tentang seorang pria yang sebenarnya
tidak terima dengan perceraian Indonesia dengan Timor, sehingga dia memilih
tinggal di Atambua, termasuk kawasan Indonesia, yang berbatasan dengan Timor.
Dia tinggal dengan anak lelakinya yang sedang dalam fase labil dan selalu merindukan
ibunya yang sudah menetap di Timor. Jadi sebenarnya cerita di film ini tentang
pilihannya antara keyakinan keIndonesiaan dan keluarga. “oke, itu terdengar
seperti cerita yang membosankan,” ujar Mustafa.
Yang
menarik adalah semua aktor dan akrtis dalam film ini bukan aktor dan aktris
lulusan asrama Punjabi, karena tidak ada yang terkenal di film ini. Semua
pemain adalah orang lokal daerah sana, dan bahasa yang digunakan pun bahasa
sana, dengan sedikit percampuran bahasa Indonesia yang tentunya sangat masuk
akal. Tetapi sayang sekali karena permainan akting mereka pun tidaklah apik, ya
jadinya hampir tidak ada bedanya dengan para aktor aktris cantik jebolan asrama
Punjabi. Akhirnya Mustafa merasa kalau film ini terkesan dibuat terlalu
buru-buru karena pengkarantinaan para aktor aktrisnya seperti kurang maksimal.
Tapi itu sebenarnya usaha yang bagus dari Riri Riza dan mira Lesmana.
Duet
Riza dan Mirles ini dengan sukses menangkap suasana Timor yang panas, gersang,
sepi, miskin, dan membosankan. Mustafa sendiri dibuatnya tidak nyaman karena
dia duduk enak di kursi empuk ruangan berpendingin sambil nyeruput minuman
dingin di sebuah mall yang menawarkan banyak sekali belanjaan sementara kondisi
orang-orang sana yang harus mengangkut batu bolak-balik berkilo-kilo meter
dengan medan yang tidak nyaman tanpa alas kaki, kemudian tidur di dipan keras
tanpa kasur, kepanasan, dan mungkin kalau mau beli coca cola pun harganya
sangat mahal. Saat Mustafa mulai merasa tidak nyaman dengan hidupnya, filmnya
bubar. Lalu kemudian Mustafa sadar dan mulai menikmati kembali hidupnya – yang
artinya film ini terlalu singkat untuk menjadi bahan pemikiran kita semua,
jiwa-jiwa yang korup. Ya, maksud Mustafa adalah kamu, Koruptor!
Secara
keseluruhan film ini bagus, Mustafa bertepuk tangan. Bertepuk tangan sambil
berdiri. Sendirian, karena yang nonton bareng Mustafa udah pada bubar. Dan
akhirnya Mustafa mengantri untuk menonton TWILIGHT.

