Sunday, November 10, 2013

LIKE CRAZY: greed

Like Crazy arahan Drake Doremus tidak pernah menjadi prioritas Mustafa untuk ditonton, sampai di satu hary yang suram Mustafa menemukan Musdalifah sedang asik menonton Like Crazy. Karena tertinggal beberapa menit, Mustafa mencari tahu tentang film ini, dan ternyata ini film masuk Sundance Film Festival. Hummm...walaupun tidak menjadi jaminan, tetapi ini film pasti layak tonton. Akhirnya Mustafa tenggelam bersama Musdalifah dalam hubungan putus-nyambung Anna dan Jacob.

Anna tinggal di London, Jacob tinggal di America. Di saat bersama mereka jatuh cinta, di saat berpisah mereka juga jatuh cinta tapi punya punya idaman lain. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan cerita banyak melihat pada perjuangan Anna untuk mendapatkan kewarganegaraan Amerika. Ini film sempet bikin frustasi, karena melihat tokoh yang kurang memiliki kesabaran dan kepuasan atas perasaan saling memiliki.

Kalau Jacob cinta sama Anna, kenapa Jacob harus pacaran sama Jennifer Lawrence? ya walopun masuk akal sih kenapa Jacob mau sama Jennifer Lawrence. Kalau Anna cinta Jacob kenapa mau pacaran sama Simon? Terus uda pacaran sama Jennifer Lawrence, balik lagi ke Anna. Uda pacaran sama Simon, balik lagi ke Jacob. Jadi ya kayanya ceritanya ga penting sih. Cumak ngeliat orang putus nyambung doang. Mungkin pelajaran yang bisa dipetik adalah, jodoh tak akan lari walau ke mana. bah!

Walopun begitu ya, ini sutradara sebenernya asik loh. Dia menggambarkan kalau bahagia itu sederhana, cukup tidur-tiduran aja di kasur, terus seneng. terus tetiba sendirian di kasur terus sedih. ya gitu dah, seru sih sebenernya. Ini bikin yang nonton gemes dan sebal dan jatuh cinta dan benci. dan sedih, dan lain-lain. Jadi itu yang bikin sutradaranya jadi jago, menguras emosi. Tapi ya itu sih yang jadi masalah, ini cuma nyeritain orang pacaran putus-nyambung doang. Dan masuk Sundance film festival.

The Moffats

Wednesday, November 6, 2013

LOVELACE: klise yang mengagumkan

Film biopic acap kali membuat decak kagum Mustafa dan juga banyak orang. Kenapa? Mungkin karena dalam diri manusia itu memang sebenarnya punya keingintahuan pada urusan orang lain. Ya keingintahuan itu bisa untuk pembelajaran bagaimana seorang bisa sukses, usaha apa yang dilakukan, sampai ke refleksi diri pada kekurangan yang masing-masing kita miliki. Yang gawat kan kalok keingintahuan itu cumak jadi bahan gosip, jadinya ya ngomongin orang lain tanpa refleksi diri sama sekali. Nah, bagaimana dengan LOVELACE, film yang bercerita tentang sepak terjang pemain bokep profesional era 70an, Linda Lovelace?

Linda Lovelace awalnya gadis dengan didikan katholik yang cukup kuat, tidak boleh pulang larut malam, harus sopan terhadap orang lain, sopan berbusana, dan juga santun dalam berpakaian. Tetapi Linda itu pengen memberontak terhadap orangtuanya, karena kalok ndak berontak ya ndak kece. Walhasil dia membawa dirinya ke dalam masalah. Pulang larut malam dan membuatnya diusir. Cerita awalnya cukup klise dan tak ada yang mencengangkan. Sampai masalah yang lebih berat lagi menerpa hidupnya. 

Suaminya, Chuck, yang dikira seorang gentleman dengan pekerjaan yang cukup menghasilkan kebahagiaan ternyata seorang cecunguk kelas kakap. Pekerjaannya hilang dan tak ada uang untuk bertahan hidup. Namun selain cecunguk, ternyata Chuck adalah sosok yang pintar, dijual lah Linda kepada om-om hidung belang sebagai pemasukan tambahan. Masih kurang juga pendapatannya, dijual lagi Linda untuk menjadi seorang pemain film bokep profesional karena Chuck sadar kalau Linda memiliki keahlian khusus yang diimpikan oleh para pria mesum.

Dan ya, film Deep Throat yang dibintangi Linda Lovelace pun laris manis, dan Linda menjadi tenar. Melihat judul Deep Throat, pasti kita semua langsung tau apa keahlian khusus yang dimiliki Linda. 

Semua terlihat indah dan biasa saja, sampai di bagian tengah film, terungkap perjalanan Linda sebelum menjadi tenar yang sangat miris. Kisah miris ini diteruskan sampai setelah Linda tenar, ya, masih tetap miris. Ajaran katholik yang diajarkan oleh mamanya untuk terus setia pada suami dan bersyukur membuat Linda enggan melawan suami, apalagi bercerai, karena Linda adalah keluarga katolik, bukan protestan. 

Ya itu ceritanya Lovelace. Sebenarna menarik kisahnya, hanya saja si sutradara Jefferey Friedman dan Rob Epstein ini terlihat tergesa-gesa untuk mengakghiri kisahnya. Padahal ada sahabat Linda, Patsy, yang selalu mendukung Linda, tapi kurang terekspos dukungannya. Patsy hanya menjadi "tempelan" yang tidak berguna akhirnya karena tidak memiliki kontribusi apa-apa kecuali hanya membuat Linda terlihat tampak tak berdaya. Pertemuan Linda dengan Chuck adalah kisah yang memilukan, tetapi setelah Linda berhasil kabur dari Chuck, Linda tetap memutuskan untuk menikah. Gejolak batin dan trauma pasti dialami oleh Linda, tak ada secuil pun gambaran dari gejolak itu yang digambarkan. 

Tapi ya itu, ini hanya berdurasi 93 menit, tentu banyak cerita yang harus dilewati agar cerita menjadi kuat. Dan ya, ceritanya memang kuat. Bahkan penyesalan orang tua Linda cukup hanya digambarkan dengan ekspresi wajah dan gerakan tangan yang sangat meyakinkan membuat penonton merasakan penyesalan seperti apa yang mereka alami. Ini film bagus kok, nikmati saja dan rasakan pahitnya hidup orang lain supaya manis yang kita rasakan dalam hidup ini.

Tuh, seksi kan?