Monday, March 25, 2013

Amour: putus asa

Dalam suka dan duka, kaya dan papa ujarnya, dan ternyata tidak ada yang namanya kesabaran tak berujung.

Film dari Prancis ini dengan sukses membuat Mustafa merasakan apa yang dirasakan oleh si tokoh utama dalam film ini, seorang kakek di usia 80an yang dengan sabar melayani istrinya yang terserang stroke. Film yang sangat tipikal dari negeri eropa sana, gambar yang statis, alur yang lambat, ruang yang kosong, dan percakapan yang melelahkan menemani Mustafa sepanjang film dalam kebosanan yang abadi.

Emosi Mustafa dibangun sangat perlahan tapi pasti, sehingga kelelahan dan putus asa pun dirasakannya. Ingin rasanya mengakhiri film ini, tetapi apa daya, adegan pembuka yang membuat penasaran setengah mati jauh lebih dominan. Awalnya bahagia, pertengahan merasakan cinta yang hangat dan sangat, akhirnya putus asa.

Permainan akting yang natural, tidak terlihat kaku dan dibuat-buat - secara aktor aktrisnya adalah orang yang sudah sangat tua dan seusia dengan karakter yang ingin dicapai, tetap saja tidak membuat Mustafa merasa kagum. Tidak kagum lebih karena perasaan saat menonton film itu sudah sekarat banget bosannya, hampir mati, jadi ya permainan aktingpun dirasa memang sudah sepantasnya bagus. Ide ceritanya pun biasa saja, tidaklah spesial, maksudnya cerita semacam ini sudah biasa banget muncul di dalam sebuah film.

Lalu apa yang bikin film ini menarik?
Yang bikin film ini menarik hanya satu, bisa membuat penontonnya merasakan apa yang seharusnya dirasakan oleh si kakek dalam film ini, cinta kasih, kesepian, dan akhirnya putus asa. Begitulah kirakira Amour. Silahkan temanteman yang tertarik menyaksikan film ini menyiapkan cemilan yang super banyak supaya tidak mengantuk. Dan jangan lupa menyiapkan minuman juga ya, supaya tidak seret tenggorokannya.