Friday, December 28, 2012

5CM: seharusnya hebat

2012 seperti membuktikan kalau ternyata perfilman Indonesia masih sangat hidup. Mustafa melihat hal itu dari animo masyarakat yang rela mengantri dan menonton satu judul film berulang kali. Mustafa melihat dengan kedua mata sendiri di kota nyaman bernama Jogja dan melalui lini masa Twitter. Menakjubkan. Film yang menjadi perhatian Mustafa adalah 5CM.


5CM bercerita tentang persahabatan lima muda-mudi yang menemukan kejenuhan dari persahabatan mereka sendiri sehingga memutuskan untuk melakukan perjalanan yang sama sekali baru bagi mereka, gunung Mahameru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Ceritanya tentu saja tidak melulu tentang perjalanan mereka menaiki gunung, ada berbagai bumbu komedi, percintaan, sampai bumbu motifasi diri ala Mario Teguh. Mari kita lihat bagaimana pendapat Mustafa tentang film ini.

Mustafa menganggap kalau film ini adalah film yang oke, tak lain dan tak bukan tentu saja karena Mustafa masih percaya dengan sutradara bernama Rizal Mantovani. Kebiasaan si sutradara mengarahkan videoklip tentu saja berpengaruh juga pada hasil visual yang disajikan ketika dia mengarahkan sebuah film  panjang, filmnya jadi seperti videoklip panjang. Mulai dari pergerakan kamera, tempo para aktor-aktris yang berperan dengan efektif, ekspersi yang tidak berlebihan, sampai warna yang dikeluarkan di layar. Sungguh menyenangkan bisa menemukan film yang memanjakan mata seperti ini.

Tentu saja sebagai sutradara yang berangkat dari videoklip, Rizal sangat memperhatikan visual, dan itu menghasilkan gambar yang memang keren. Sayang sekali sebuah film tidak hanya hanya dinikmati dari gambar yang dihasilkan, tetapi dari percakapan para pemain yang diproduksi dari naskah. Mustafa merasa naskah yang dibawanya membuat para aktor-aktris menjadi tidak natural. Ada beberapa percakapan yang tidak akan ditemui di kehidupan nyata, karena nantinya akan menjadi sangat berlebihan. Sahut menyahut yang terlalu dibuat-buat membuat Mustafa terpingkal-pingkal tidak percaya, dan itu diulang dua kali. Sahut menyahut yang dimaksudkan Mustafa adalah sahut menyahut tentang motivasi pribadi, yang karena namanya juga pribadi, jadi ya seharusnya hanya dipahami oleh satu pribadi saja. Lha ini, masa' motivasi pribadi sahut-sahutan, kan yo lucu toh ya. Satu lagi ketika para aktor-aktris berbicara tentang kecintaannya pada Indonesia, mereka semua mengumbar janjinya dengan disaksikan oleh banyak pendaki lain yang hening tak berucap, kemudian seusai berjanji, semua bersorak. Oh, sangat palsu sekali.

Mustafa cucok dengan sutradara, tetapi tidak cucok dengan sang produser yang berasal dari keluarga Soraya. Film yang diproduksi oleh keluarga Soraya apabila Mustafa lihat kembali ke belakang, banyak sekali yang mengumbar barang-barang mewah, dan itu sebenarnya tidak baik untuk mental bangsa Indonesia. Jadi apabila si tokoh berbicara tentang keindonesiaan tetapi rumahnya sangat wow dan mengendarai Aston Martin yang seharusnya hanya boleh dikendarai oleh James Bond, sedikit sulit diterima oleh Mustafa. Ya sebenarnya barang mewah seperti ini sudah mucul sejak Soraya grup itu memproduksi film Dono, Kasino, Indro. Bayangkan Dono, Kasino, Indro yang selalu mengaku tidak punya uang tetpi mengontrak rumah besar berlantai dua. Oh, wow! Ya memaklumkannya mudah sih, lokasi yang besar dan luas tentu saja memudahkan produksi film dengan peralatan yang tentu saja tidak sederhana dan cukup merepotkan, dan sepertinya secara estetika, barang mewah lebih menarik dilihat. Sepertinya. Sebenarnya ya ndak juga sih, tergantung kepiawaian kita saja mengolahnya jadi menarik. Eciyeeehhh.

Tetapi tentu saja 5CM adalah sebuah film (yang berangkat dari novel) dan tentunya mengandung banyak hal yang sah apabila banyak hal yang tidak sama dengan yang kita temui di kehidupan nyata. Jadi, masalah naskah yang dipermasalahkan Mustafa tadi itu, ya, sah juga jika ingin dibuatkan pemakluman, walaupun sebenarnya Mustafa tidak terima jika dimaklumkan. Ayolah, kejadian 'batu jatuh' sebelum mencapai puncak itu sungguh memalukan, bagaimana mungkin tidak ada orang lain yang mau menolong satu kelompok yang sedang mengalami musibah. Ini menghina Mustafa yang memiliki teman seorang pendaki gunung handal. Secara logikanpun tidak masuk diakal. Kecuali apabila gunung itu ditemukan sangat sepi pengunjung, kenyataanya, tidak jauh dari mereka pun ada sekelompok pendaki juga. Astaga.


Sebenarnya Mustafa sudah sangat menantikan film ini, tentu saja tidak lain dan tidak bukan karena faktor Pevita Pearce yang terlibat sebagai aktris. Luar biasa. Mustafa mengenal Pevita dari situs Instagram, foto-fotonya yang menggemaskan membuat Mustafa terpikat, dan kini dia dapat melihat aktris idolanya di layar lebar. Ternyata, Pevita tidak mendapat banyak bicara, tetapi dia harus lihai memainkan ekspresi wajah, dan dia memang sangat keren sekali berakting. Cantik, menggemaskan, dan pandai bersandiwara, siapa yang tidak terpikat dengannya. Oh iya, Herjunot juga tampan sekali, uwooowww...

Sungguh ini film yang menyenangkan. Mustafa sangat bahagia dengan 5CM.





Thursday, December 13, 2012

HELLO GOODBYE: gelombang korea


Sekali lagi Mustafa tertarik untuk menonton film Indonesia satu ini karena tampak memberikan sesuatu yang berbeda dan Mustafa merasa harus menjadi saksi atas sesuatu yang terlihat hebat dan keren. Walaupun Mustafa baru sempat menjadi saksi saat HELLOGOODBYE sudah tayang hampir 2 minggu, dan tentu saja peminatnya hanya sedikit. Di dalam studio hanya terisi 6 kursi, 2 kursi dipakai pasangan muda di pojok belakang sana, dan 2 kursi lainnya yang sedikit tengah pun hanya bertahan sampai pertengahan film. Yak, inilah dia, HELLOGOODBYE.

bhoki.files.wordpress.com

Cerita HELLOGOODBYE sebenarnya sederhana, saking sederhananya sampai-sampai Mustafa tidak bisa berkata banyak tentang isi ceritanya. Indah, seorang pekerja KBRI untuk Busan, harus merawat Abi, seorang ABK berkebangsaan Indonesia yang terdampar di dermaga Busan. Seorang pria dan seorang wanita di sebuah film produksi Indonesia, apalagi yang bisa kita harapkan? Tentu saja di akhirnya akan ada cinta. Biasanya penonton film dengan ide cerita besar seperti ini berharap bisa menikmati proses sampai terjadinya cinta dengan problematikanya yang menarik dan menggelikan. Teruslah berharap, karena menikmati HELLOGOODBYE bukanlah perkara mudah.

HELLOGOODBYE dinilai Mustafa sebagai film yang ingin menjadi film alternatif, yang tentunya juga ingin bersaing di kancah internasional. Jadi ya nada-nada filmnya juga mengikuti nada film asing yang sepi dengan pergerakan kamera yang sangat minim dan bahkan hampir statis. Mustafa menyukai film yang sepi dengan kamera statis, karena Mustafa berkesempatan untuk menikmati detail setiap gambar yang disajikan di layar. Selain itu Mustafa juga selalu menemukan kejutan-kejutan untuk mengimbangi sepinya film tersebut, yang Mustafa pikir sebagai strategi sutradara agar penonton tidak bosan. Nah, di HELLOGOODBYE, Mustafa tidak menemukan kejutan seperti yang dia harapkan. Tidak ada kejadian-kejadian ‘nakal’ yang Mustafa temukan atau permainan akting yang mendadak menjadi keren. Tidak ada. Hanya ada adegan Santa Claus batuk-batuk di rumah sakit, dan itu pun tidak keren, malah terkesan memaksakan. Permainan aktingnya bagaimana? Wah, itu…datar sih. Dua pemeran utama ingin menciptakan karakter yang dingin dan ‘cool’, tapi ya njuk jadi terlalu dingin tanpa emosi. Aaahahahahahaaaa. Begitu pula dengan beberapa peran pembantu lainnya, sama saja. Jadi dari sisi alur cerita dan teknik peran, film ini lemah. Lemah!

Apa kemudian yang menarik dari HELLOGOODBYE? Mustafa melihat kalau film ini mengandalkan pesona Korea Selatan yang sedang naik daun di dunia internasional, dan tidak boleh ada yang menyangkal itu. Kota yang tertangkap di film ini adalah Busan, kota kecil yang cantik dan terkenal dengan Busan Film Festival nya. Ya, Busan Film Festival, dan Mustafa sudah bisa menduganya. Sayangnya setting yang ‘mewah’ ini tampak sia-sia karena tidak dimanfaatkan dengan maksimal, tidak ada momen dari Busan yang sangat ikonik dan menggugah decak kagum yang alay, semuanya menjadi so-so. Busan hanya menjadi kota kecil seperti Atambua dengan kesepiannya masing-masing. Selain kotanya sendiri, Korea juga mengeluarkan salah satu artis koreanya, entah dia itu penyanyi atau aktor, sepertinya namanya Eru, dan dia tampan, hanya saja Eru bukan tipenya Mustafa. Pesona Eru ini juga kurang dimainkan, malah semakin membuat film ini aneh dan maksa. Menjelang akhir film, si sutradara HELLOGOODBYE seperti membuatkan videoklip untuk si Eru ini. Hadeuhhhh!

HELLOGOODBYE meskipun dianggap Mustafa adalah film gagal, tetap saja dinilai sebagai film yang memberikan contoh yang baik. Seperti ini, jika kamu ingin karyamu ditayangkan di festival film Cannes, misalnya, ya produksilah film di Cannes langsung, ambil bagian yang menarik dari sisi Cannes, ambil tokoh kota itu, buat konsep yang sedikit nyentrik, eksekusi, dan voila! kesempatan untuk ditayangkan di festival film bergengsi pun akan semakin besar. Paling tidak ada usahanya. Ya, walaupun Mustafa tidak menyarankan untuk menonton HELLOGOODBYE, tetapi film ini tetaplah bagus, karena sudah menjadi film, tidak hanya berupa naskah dan ide saja. Tepuk tangan! (curcol)  

LIFE OF PI: Ang Lee dan menjadi dewasa


Masa awal kuliah adalah masa Mustafa gemar membaca, mulai dari majalah, novel, kumpulan cerpen, puisi, buku TTS, semua habis dibaca oleh Mustafa. Di usia Mustafa kini dia mulai mengalami kesulitan membaca, sedih hatinya saat dia menyadari kalau dirinya sudah tidak mampu untuk menyelesaikan satu novel tipis dalam waktu satu tahun. Kesedihannya itu kini terobati, karena di penguhujung tahun 2012, ada sebuah film yang diangkat dari novel kegemarannya dulu, LIFE OF PI.

impawards.com


Mustafa sumringah bukan kepalang mengetahui LIFE OF PI dibuat filmnya, apalagi dia sudah sedikit lupa dengan ceritanya. Tidak ada yang bisa menghentikannya kini. Duduk di ruangan berpendingin dan empuk mengenakan kacamata 3D yang sangat tidak nyaman dikenakan berlamalama, dia tersenyum-senyum sendiri. Tetapi tidak lama kemudian senyumnya sedikit hilang digantikan kecewa, karena dia baru menyadari kalau sutradara LIFE OF PI adalah Ang Lee, pria Taiwan yang lahir hampir 60 tahun yang lalu.

Apa yang salah dari Ang Lee? Mustafa sendiri tidak akan menyangkal kalau film karya Ang Lee termasuk film-film yang bagus, artistik dan … dewasa. Ya, Mustafa selalu merasa film Ang Lee adalah film dewasa yang minim adegan ‘dewasa’. Mari kita lihat CROUCHING TIGER, HIDDEN DRAGON, film yang apik, judul yang buruk, landscape yang sangat indah, perkelahian yang lebih cocok disebut tari kontemporer, dan, ya, sangat dewasa. Kemudian ada lagi film HULK, film yang diangkat dari komik, drama yang kuat, akting yang memukau, detail yang maksimal, dan lagi-lagi sangat dewasa. Berikutnya BROKEBACK MOUNTAIN yang sangat romantis, kotor, sekaligus sangat indah, dan tentu saja film ini berani memaparkan landscape yang sangat liar dan dingin. Seolah-olah masih belum cukup, Ang Lee masih saja membuat TAKING WOODSTOCK, film yang menyenangkan sebenarnya, tetapi sayang filmnya terlalu dewasa sehingga membuat Mustafa harus tertidur ditengah-tengah film dan baru menyelesaikan filmnya di hari ketiga. Oh, paparan landscape di TAKING WOODSTOCK benar-benar membuat Mustafa ingin melepas penutup kepalanya dan berbaring menggelundung dari atas bukit rumput yang hijau itu. Jangan lupakan juga LUST/CAUTION.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, apa yang salah dari ‘dewasa’?. Oh, Mustafa dengan mengatakan “tidak ada”. Hanya saja ketika aura dewasa dibawa ke film LIFE OF PI tentu saja akan banyak menghilangkan suasana yang menggetarkan ketika Mustafa membaca novelnya. Lihat saja bagaimana Ang Lee membuang seru dan khayalan yang kita temui saat membaca komik HULK. Ang Lee akan merusak LIFE OF PI dengan suasana dewasa yang sangat membosankan dan slaaauuuuwwwwwwww

Ternyata kekhawatiran Mustafa kalau Ang Lee akan merusak suasana yang diusung oleh novelnya sama sekali tidak terjadi. Sejak awal sampai akhir Mustafa disuguhi gambar yang sangat memukau, tidak bermaksud berlebihan, tetapi film LIFE OF PI benar-benar sangat cantik. Semua hewan, tumbuhan, sampai manusia India dapat dihadirkan oleh Ang Lee dengan sangat harmonis, memperkuat kehadiran yang satu dengan yang lain. Lelucon segar yang hadir tanpa diduga juga menambah apiknya film ini. Apakah film ini terkesan dewasa? Ya, suasana yang sangat Ang Lee masih kental terasa, tetapi kali ini tidak membosankan, tidak menggurui, dan tidak membuat Mustafa ingin mengedipkan mata. Selalu ada kejutan yang orisinal dari setiap babak yang ditampilkan. Bahkan beberapa kali Mustafa mengumpatkan Fuck untuk adegan yang mengejutkan dan keindahan dunia LIFE OF PI.

Pada awalnya tidak ada studio yang mau menginvestakan uangnya untuk LIFE OF PI karena tidak ada yang merasa kalau novel ini memungkinkan untuk dibawa ke layar gerak, tetapi Ang Lee berhasil meyakinkan studio 20th Fox untuk bergabung di meja judi. Iming-iming dari Ang Lee adalah dengan membuat LIFE OF PI dalam format 3D yang memaksimalkan keindahan artistik dari landscape yang mampu merangkum seluruh horizon – bumi. Iming-iming yang sangat gila sekaligus tak dapat ditolak. Dan Ang Lee memastikan iming-imingnya benar-benar terwujud di layar, karena seperti bukan rahasia umum lagi kalau eksplorasi landscape benar-benar keahlian Ang Lee. Sungguh luar biasa sekali. Ini seperti menjadikan LIFE OF PI adalah film dengan teknologi 3D yang terbaik dan maksimal.

Apakah tidak ada cela dari LIFE OF PI? Oh, Mustafa sekali lagi menegaskan, tiada gading yang tak retak, masalahnya tinggal apakah retaknya terlihat jelas dan mengganggu atau tidak. Dengan naskah yang apik, visi sutradara yang jenius, dan akting para pemeran utama yang juga enak untuk dinikmati, sangat sulit untuk merasa terganggu dengan akting tawar dua figuran wanita India itu. Sudah wajahnya tidak cantik, pakaiannya tidak seksi, orang India, ehhhhh…aktingnya malah jelek, kan merusak sekali, untungnya hanya hadir di tiga frame. Tetapi walaupun begitu, dua figuran itu tidak lama kemudian segera terlupakan dan seolah-olah tidak pernah hadir.

LIFE OF PI memiliki cerita yang sangat luar biasa, yang membuat Mustafa kembali berfikir dan merenungkan hubunganya dengan Tuhan lagi. Cerita yang luar biasa ini tidak bisa dirangkumkan, karena hanya akan merusak misteri dan petualangan yang nantinya akan membawa setiap mata yang menyaksikannya. Dan cerita yang luar biasa itu divisualisasikan dengan sangat cantik yang membuat Mustafa ingin menggenggam erat tangan pasangannya sepanjang film dan tak ingin melepaskan seolah-olah ingin berbagi keajaiban hidup. Ini akan menjadi sangat buruk apabila Mustafa menontonnya dengan seorang pria. 

Monday, November 26, 2012

ATAMBUA 39 DERAJAT CELSIUS



Mustafa sudah tau film apa yang ingin ditontonnya begitu dia sampai di bioskop, bukan film tentang Dracula yang bisa berkilau seperti berlian, bukan pula film tentang agen rahasia yang menggunakan handphone android dalam melaksanakan tugasnya, melainkan film tentang kesepian dan idealisme besutan sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana. Ini dia, Atambua 39o Celsius.




Film yang ditayangkan pertama kali di sebuah festival film di Jepang pada bulan Oktober ini akhirnya tayang juga di tanah air pada bulan November. Kenapa sebuah film produksi Indonesia lebih dulu tayang di Jepang daripada di negeri asalnya sendiri? Pada sebuah sesi wawancara, Mustafa menjawab pertanyaan itu dengan sangat sederhana, “karena ini adalah film ATAMBUA 39o CELSIUS, bukan film NENEK GAYUNG, makanya tayang di luar negeri dulu,” ujar Mustafa yang sebenarnya bukan siapa-siapa di produksi film ini. Mustafa juga menyatakan beberapa kemungkinan, salah satunya adalah karena film alternatif sejenis ini tidak akan mendapat sambutan yang layak di negeri Indonesia, makanya untuk membangun kepercayaan diri dan memberikan nilai lebih, film ini ditayangkan lebih dulu di negeri tetangga sehingga mendapat predikat kalau film ini sudah pernah tayang di festival film di Jepang dan bisa mencantumkan predikat itu di posternya.

Tetapi apakah Mustafa merasa pencantuman predikat telah tayang di Jepang itu akan mengangkat penjualan film itu? Ternyata tidak. Buktinya saat Mustafa menonton film itu, hanya ada 3 penonton yang bersamanya, dan itu cukup menunjukkan pada Mustafa kalau dari segi penjualan, ATAMBUA 39o CELSIUS sudah gagal total. Lebih bagus penjualan film RINTIHAN KUNTILANAK PERAWAN yang berisi kurang lebih 23 penonton bersamanya. Ada satu titik di saat Mustafa merasa judul ATAMBUA yang keren itu tidak menarik, “ya bolehlah kalau Riri Riza dan Mira Lesmana bisa mencari judul yang keren, tapi mereka sama sekali tidak memikirikan apakah judul itu menarik atau tidak.” Mustafa kemudian melanjutkan, “Saya terus terang lebih tertarik menonton film yang mengandung ‘Rintihan’ dan ‘Perawan’, itu brilliant, persetan dengan Kuntilanaknya,ujar Mustafa yang mendadak antusias mungkin karena sedang membayangkan “Perawan” dan “Rintihan” itu tadi.  

Mustafa sebagai penggemar film ATAMBUA ini sendiri pada awalnya sedikit kesulitan untuk menyukainya. Suasana yang sangat sepi dan berkepanjangan sempat membuat Mustafa putus asa. Apalagi ceritanya berlatar belakang perceraian Timor dengan Indonesia. Jadi begini, film ini bercerita tentang seorang pria yang sebenarnya tidak terima dengan perceraian Indonesia dengan Timor, sehingga dia memilih tinggal di Atambua, termasuk kawasan Indonesia, yang berbatasan dengan Timor. Dia tinggal dengan anak lelakinya yang sedang dalam fase labil dan selalu merindukan ibunya yang sudah menetap di Timor. Jadi sebenarnya cerita di film ini tentang pilihannya antara keyakinan keIndonesiaan dan keluarga. “oke, itu terdengar seperti cerita yang membosankan,” ujar Mustafa.

Yang menarik adalah semua aktor dan akrtis dalam film ini bukan aktor dan aktris lulusan asrama Punjabi, karena tidak ada yang terkenal di film ini. Semua pemain adalah orang lokal daerah sana, dan bahasa yang digunakan pun bahasa sana, dengan sedikit percampuran bahasa Indonesia yang tentunya sangat masuk akal. Tetapi sayang sekali karena permainan akting mereka pun tidaklah apik, ya jadinya hampir tidak ada bedanya dengan para aktor aktris cantik jebolan asrama Punjabi. Akhirnya Mustafa merasa kalau film ini terkesan dibuat terlalu buru-buru karena pengkarantinaan para aktor aktrisnya seperti kurang maksimal. Tapi itu sebenarnya usaha yang bagus dari Riri Riza dan mira Lesmana.

Duet Riza dan Mirles ini dengan sukses menangkap suasana Timor yang panas, gersang, sepi, miskin, dan membosankan. Mustafa sendiri dibuatnya tidak nyaman karena dia duduk enak di kursi empuk ruangan berpendingin sambil nyeruput minuman dingin di sebuah mall yang menawarkan banyak sekali belanjaan sementara kondisi orang-orang sana yang harus mengangkut batu bolak-balik berkilo-kilo meter dengan medan yang tidak nyaman tanpa alas kaki, kemudian tidur di dipan keras tanpa kasur, kepanasan, dan mungkin kalau mau beli coca cola pun harganya sangat mahal. Saat Mustafa mulai merasa tidak nyaman dengan hidupnya, filmnya bubar. Lalu kemudian Mustafa sadar dan mulai menikmati kembali hidupnya – yang artinya film ini terlalu singkat untuk menjadi bahan pemikiran kita semua, jiwa-jiwa yang korup. Ya, maksud Mustafa adalah kamu, Koruptor!

Secara keseluruhan film ini bagus, Mustafa bertepuk tangan. Bertepuk tangan sambil berdiri. Sendirian, karena yang nonton bareng Mustafa udah pada bubar. Dan akhirnya Mustafa mengantri untuk menonton TWILIGHT.

mustafa is watching