Sekali lagi Mustafa tertarik
untuk menonton film Indonesia satu ini karena tampak memberikan sesuatu yang
berbeda dan Mustafa merasa harus menjadi saksi atas sesuatu yang terlihat hebat
dan keren. Walaupun Mustafa baru sempat menjadi saksi saat HELLOGOODBYE sudah
tayang hampir 2 minggu, dan tentu saja peminatnya hanya sedikit. Di dalam
studio hanya terisi 6 kursi, 2 kursi dipakai pasangan muda di pojok belakang
sana, dan 2 kursi lainnya yang sedikit tengah pun hanya bertahan sampai
pertengahan film. Yak, inilah dia, HELLOGOODBYE.
![]() |
| bhoki.files.wordpress.com |
Cerita HELLOGOODBYE sebenarnya
sederhana, saking sederhananya sampai-sampai Mustafa tidak bisa berkata banyak
tentang isi ceritanya. Indah, seorang pekerja KBRI untuk Busan, harus merawat
Abi, seorang ABK berkebangsaan Indonesia yang terdampar di dermaga Busan.
Seorang pria dan seorang wanita di sebuah film produksi Indonesia, apalagi yang
bisa kita harapkan? Tentu saja di akhirnya akan ada cinta. Biasanya penonton film
dengan ide cerita besar seperti ini berharap bisa menikmati proses sampai
terjadinya cinta dengan problematikanya yang menarik dan menggelikan. Teruslah
berharap, karena menikmati HELLOGOODBYE bukanlah perkara mudah.
HELLOGOODBYE dinilai Mustafa
sebagai film yang ingin menjadi film alternatif, yang tentunya juga ingin
bersaing di kancah internasional. Jadi ya nada-nada filmnya juga mengikuti nada
film asing yang sepi dengan pergerakan kamera yang sangat minim dan bahkan
hampir statis. Mustafa menyukai film yang sepi dengan kamera statis, karena
Mustafa berkesempatan untuk menikmati detail setiap gambar yang disajikan di
layar. Selain itu Mustafa juga selalu menemukan kejutan-kejutan untuk
mengimbangi sepinya film tersebut, yang Mustafa pikir sebagai strategi
sutradara agar penonton tidak bosan. Nah, di HELLOGOODBYE, Mustafa tidak
menemukan kejutan seperti yang dia harapkan. Tidak ada kejadian-kejadian ‘nakal’
yang Mustafa temukan atau permainan akting yang mendadak menjadi keren. Tidak
ada. Hanya ada adegan Santa Claus batuk-batuk di rumah sakit, dan itu pun tidak
keren, malah terkesan memaksakan. Permainan aktingnya bagaimana? Wah, itu…datar
sih. Dua pemeran utama ingin menciptakan karakter yang dingin dan ‘cool’, tapi
ya njuk jadi terlalu dingin tanpa
emosi. Aaahahahahahaaaa. Begitu pula dengan beberapa peran pembantu lainnya,
sama saja. Jadi dari sisi alur cerita dan teknik peran, film ini lemah. Lemah!
Apa kemudian yang menarik dari
HELLOGOODBYE? Mustafa melihat kalau film ini mengandalkan pesona Korea Selatan
yang sedang naik daun di dunia internasional, dan tidak boleh ada yang
menyangkal itu. Kota yang tertangkap di film ini adalah Busan, kota kecil yang
cantik dan terkenal dengan Busan Film Festival nya. Ya, Busan Film Festival,
dan Mustafa sudah bisa menduganya. Sayangnya setting yang ‘mewah’ ini tampak
sia-sia karena tidak dimanfaatkan dengan maksimal, tidak ada momen dari Busan
yang sangat ikonik dan menggugah decak kagum yang alay, semuanya menjadi so-so. Busan hanya menjadi kota kecil
seperti Atambua dengan kesepiannya masing-masing. Selain kotanya sendiri, Korea
juga mengeluarkan salah satu artis koreanya, entah dia itu penyanyi atau aktor,
sepertinya namanya Eru, dan dia tampan, hanya saja Eru bukan tipenya Mustafa.
Pesona Eru ini juga kurang dimainkan, malah semakin membuat film ini aneh dan maksa.
Menjelang akhir film, si sutradara HELLOGOODBYE seperti membuatkan videoklip
untuk si Eru ini. Hadeuhhhh!
HELLOGOODBYE meskipun dianggap
Mustafa adalah film gagal, tetap saja dinilai sebagai film yang memberikan
contoh yang baik. Seperti ini, jika kamu ingin karyamu ditayangkan di festival
film Cannes, misalnya, ya produksilah film di Cannes langsung, ambil bagian
yang menarik dari sisi Cannes, ambil tokoh kota itu, buat konsep yang sedikit
nyentrik, eksekusi, dan voila! kesempatan untuk ditayangkan di festival film
bergengsi pun akan semakin besar. Paling tidak ada usahanya. Ya, walaupun
Mustafa tidak menyarankan untuk menonton HELLOGOODBYE, tetapi film ini tetaplah
bagus, karena sudah menjadi film, tidak hanya berupa naskah dan ide saja. Tepuk
tangan! (curcol)

sebut saja Eru, bukan nama sebenarnya.
ReplyDelete