Thursday, December 13, 2012

LIFE OF PI: Ang Lee dan menjadi dewasa


Masa awal kuliah adalah masa Mustafa gemar membaca, mulai dari majalah, novel, kumpulan cerpen, puisi, buku TTS, semua habis dibaca oleh Mustafa. Di usia Mustafa kini dia mulai mengalami kesulitan membaca, sedih hatinya saat dia menyadari kalau dirinya sudah tidak mampu untuk menyelesaikan satu novel tipis dalam waktu satu tahun. Kesedihannya itu kini terobati, karena di penguhujung tahun 2012, ada sebuah film yang diangkat dari novel kegemarannya dulu, LIFE OF PI.

impawards.com


Mustafa sumringah bukan kepalang mengetahui LIFE OF PI dibuat filmnya, apalagi dia sudah sedikit lupa dengan ceritanya. Tidak ada yang bisa menghentikannya kini. Duduk di ruangan berpendingin dan empuk mengenakan kacamata 3D yang sangat tidak nyaman dikenakan berlamalama, dia tersenyum-senyum sendiri. Tetapi tidak lama kemudian senyumnya sedikit hilang digantikan kecewa, karena dia baru menyadari kalau sutradara LIFE OF PI adalah Ang Lee, pria Taiwan yang lahir hampir 60 tahun yang lalu.

Apa yang salah dari Ang Lee? Mustafa sendiri tidak akan menyangkal kalau film karya Ang Lee termasuk film-film yang bagus, artistik dan … dewasa. Ya, Mustafa selalu merasa film Ang Lee adalah film dewasa yang minim adegan ‘dewasa’. Mari kita lihat CROUCHING TIGER, HIDDEN DRAGON, film yang apik, judul yang buruk, landscape yang sangat indah, perkelahian yang lebih cocok disebut tari kontemporer, dan, ya, sangat dewasa. Kemudian ada lagi film HULK, film yang diangkat dari komik, drama yang kuat, akting yang memukau, detail yang maksimal, dan lagi-lagi sangat dewasa. Berikutnya BROKEBACK MOUNTAIN yang sangat romantis, kotor, sekaligus sangat indah, dan tentu saja film ini berani memaparkan landscape yang sangat liar dan dingin. Seolah-olah masih belum cukup, Ang Lee masih saja membuat TAKING WOODSTOCK, film yang menyenangkan sebenarnya, tetapi sayang filmnya terlalu dewasa sehingga membuat Mustafa harus tertidur ditengah-tengah film dan baru menyelesaikan filmnya di hari ketiga. Oh, paparan landscape di TAKING WOODSTOCK benar-benar membuat Mustafa ingin melepas penutup kepalanya dan berbaring menggelundung dari atas bukit rumput yang hijau itu. Jangan lupakan juga LUST/CAUTION.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, apa yang salah dari ‘dewasa’?. Oh, Mustafa dengan mengatakan “tidak ada”. Hanya saja ketika aura dewasa dibawa ke film LIFE OF PI tentu saja akan banyak menghilangkan suasana yang menggetarkan ketika Mustafa membaca novelnya. Lihat saja bagaimana Ang Lee membuang seru dan khayalan yang kita temui saat membaca komik HULK. Ang Lee akan merusak LIFE OF PI dengan suasana dewasa yang sangat membosankan dan slaaauuuuwwwwwwww

Ternyata kekhawatiran Mustafa kalau Ang Lee akan merusak suasana yang diusung oleh novelnya sama sekali tidak terjadi. Sejak awal sampai akhir Mustafa disuguhi gambar yang sangat memukau, tidak bermaksud berlebihan, tetapi film LIFE OF PI benar-benar sangat cantik. Semua hewan, tumbuhan, sampai manusia India dapat dihadirkan oleh Ang Lee dengan sangat harmonis, memperkuat kehadiran yang satu dengan yang lain. Lelucon segar yang hadir tanpa diduga juga menambah apiknya film ini. Apakah film ini terkesan dewasa? Ya, suasana yang sangat Ang Lee masih kental terasa, tetapi kali ini tidak membosankan, tidak menggurui, dan tidak membuat Mustafa ingin mengedipkan mata. Selalu ada kejutan yang orisinal dari setiap babak yang ditampilkan. Bahkan beberapa kali Mustafa mengumpatkan Fuck untuk adegan yang mengejutkan dan keindahan dunia LIFE OF PI.

Pada awalnya tidak ada studio yang mau menginvestakan uangnya untuk LIFE OF PI karena tidak ada yang merasa kalau novel ini memungkinkan untuk dibawa ke layar gerak, tetapi Ang Lee berhasil meyakinkan studio 20th Fox untuk bergabung di meja judi. Iming-iming dari Ang Lee adalah dengan membuat LIFE OF PI dalam format 3D yang memaksimalkan keindahan artistik dari landscape yang mampu merangkum seluruh horizon – bumi. Iming-iming yang sangat gila sekaligus tak dapat ditolak. Dan Ang Lee memastikan iming-imingnya benar-benar terwujud di layar, karena seperti bukan rahasia umum lagi kalau eksplorasi landscape benar-benar keahlian Ang Lee. Sungguh luar biasa sekali. Ini seperti menjadikan LIFE OF PI adalah film dengan teknologi 3D yang terbaik dan maksimal.

Apakah tidak ada cela dari LIFE OF PI? Oh, Mustafa sekali lagi menegaskan, tiada gading yang tak retak, masalahnya tinggal apakah retaknya terlihat jelas dan mengganggu atau tidak. Dengan naskah yang apik, visi sutradara yang jenius, dan akting para pemeran utama yang juga enak untuk dinikmati, sangat sulit untuk merasa terganggu dengan akting tawar dua figuran wanita India itu. Sudah wajahnya tidak cantik, pakaiannya tidak seksi, orang India, ehhhhh…aktingnya malah jelek, kan merusak sekali, untungnya hanya hadir di tiga frame. Tetapi walaupun begitu, dua figuran itu tidak lama kemudian segera terlupakan dan seolah-olah tidak pernah hadir.

LIFE OF PI memiliki cerita yang sangat luar biasa, yang membuat Mustafa kembali berfikir dan merenungkan hubunganya dengan Tuhan lagi. Cerita yang luar biasa ini tidak bisa dirangkumkan, karena hanya akan merusak misteri dan petualangan yang nantinya akan membawa setiap mata yang menyaksikannya. Dan cerita yang luar biasa itu divisualisasikan dengan sangat cantik yang membuat Mustafa ingin menggenggam erat tangan pasangannya sepanjang film dan tak ingin melepaskan seolah-olah ingin berbagi keajaiban hidup. Ini akan menjadi sangat buruk apabila Mustafa menontonnya dengan seorang pria. 

No comments:

Post a Comment