Mustafa sedikit gemetar mengetahui kalau novel klasik karya Victor Hugo ini kembali diangkat ke layar lebar dengan deretan aktor-aktris yang luar biasa. Walaupun dia dahulu kala lebih gemetar lagi ketika mendapat tugas untuk membaca novel itu kemudian diminta mereview untuk diujikan. Yang membuat gemetar karena novelnya sendiri sangatlah tebal hingga lebih dari 1000 halaman, itupun setelah pengurangan sana-sini karena penyesuaian dengan terjemahan dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris. Terima kasih pada penulis pintar yang mampu menyusun simplified version dari novel ini. Ini dia, Les Miserables.
Tidak perlu banyak Mustafa berbicara tentang isi cerita, karena seperti judulnya, semua tentang hidup yang mengenaskan dari beberapa tokoh yang terlibat di dalamnya. Berpusat pada seorang penjahat rendahan yang ketahuan mencuri sepotong roti dan dihukum penjara yang lamanya tidak masuk akal. Setelah bebas, dia tetap tidak bisa melenggang begitu saja, karena sipir tampan dan tegas itu ingin agar si mantan napi ini tetap melaksanakan kewajiban lapor rutinnya. Dia terus berlari dan berlari selama beberapa periode masa dan selama pelarian itu, dia pun bertemu dengan beberapa orang yang memiliki hidup mengenaskan pula.
Kira-kira seperti itu Kisah cerita Les Miserables yang novelnya diterbitkan pada tahun 1862 di Prancis nun jauh di sana. Pada tahun itu, semua karya sastra hampir memiliki nada yang sama, miskin, menderita, dan penuh hukuman. Kebaikan dan kejahatan selalu digambarkan hitam dan putih, belum ada penokohan abu-abu seperti era Batman di jaman sekarang. Kalok ndak baik, ya jahat. Cumak itu aja. Semangat hitam -putih itu di negara eropa dan Amerika sana sudah ditinggalkan sejak lama, sekarang jamannya Anti-hero dan juga Grey-hero, tetapi di Indonesia semangat hitam dan putih itu tentu saja tetap terpelihara.
Mari kita lihat di zaman Mustafa duduk di bangku SMP. Saat Mustafa gemar menonton televisi, acara yang sedang 'happening' banget ya tentu saja sinetron Tersanjung. Nada dari sinetronnya pun ndak jauh beda sama Les Miserables, penderitaan berkepanjangan sampai beberapa periode waktu dan turun temurun ke generasi penerusnya. Mulai dari si Jihan Fahira diceritakan masih gadis, sampai rambutnya sudah dicat putih menandakan uban dan memiliki cucu, tetapi wajahnya tetap saja imut. Dan Jihan Fahira itu ya di sinetron itu kok ya sedih terus sampai kalau tidak salah ingat 6 musim. Sekarang Mustafa menonton televisi hanya untuk acara-acara tertentu saja, dan Mustafa sadar kalau nada mengenaskan di persinetronan Indonesia tidaklah hilang. Sekarang diteruskan oleh Asmiranda, mulai dari Asmiranda gadis, sampai dia berjilbab. Sedih terus.
Mustafa penasaran dan ingin mencari tahu ada apa sebenarnya dengan penderitaan ini. Dengan kepala yang kosong dan hati yang lugu, Mustafa menyimpulkan kalau agama adalah penyebabnya. Sewaktu Les Miserables ditulis, pengaruh gereja di Eropa sedang bagus-bagusnya, kitab suci seperti menjadi pedoman hidup banyak orang. Nah, di kitab suci itu, Mustafa membicarakan alkitab, dibagi menjadi dua, perjanjian lama dan perjanjian baru, yang isinya juga seperti Les Miserables itu tadi. Perjanjian lama bercerita tentang baik dan buruk lengkap dengan hukumannya. Di perjanjian baru ceritanya fokus ke Yesus yang mengalami hari-hari mengenaskan sebelum naik ke surga.
Di negara barat, orang-orangnya memahami agama lebih dinamis, yang penting adalah penerapan nilai-nilai kebaikan di kehidupan nyata. Pedoman tetap di kitab suci, tetapi pandai memilah antara intisari pesan yang ingin disampaikan dengan sampah yang menyelimuti inti itu. Sekarang di Indonesia, betapa ngototnya masyarakat untuk terlihat 'fabulous' saat menghadiri misa di gereja dan dengan lihai menghakimi orang yang enggan datang beribadah ke rumah Tuhan. Jadi ya sudah jelas di sini, yang ke gereja itu kaum putih, yang tidak ke gereja kaum hitam. Cewe-cewe yang mbonceng tukang ojek masih ngangkang ya kaum hitam, tukang ojek yang membiarkan pelanggan wanitanya ngangkang ya kaum hitam juga. Salah pokoknya. Jadi ndak ada di Indonesia tu yang abu-abu. Makanya Asmiranda masih laku jugak. Bwahahahahahaaaaa...
Baiklah, mari kembali ke Les Miserables. Les Miserables ini disutradari oleh Tom Hooper, sutradara era 2000-an, yang melejit lewat THE KING'S SPEECH. Melejitnya tentu saja karena THE KING'S SPEECH menjadi film terbaik Oscar 2010. Sekarang LES MISERABLES kembali dinominasikan sebagai film terbaik oscar 2012, luar biasa. Memang luar biasa karena Tom Hooper ini sukses mengarahkan aktor-aktris untuk mengeluarkan semua kemampuan aktingnya dengan maksimal. Mulai dari ekspresi yang menghipnotis penonton untuk merasakan kesakitan Anne Hathaway sampai pilu yang ditunjukkan oleh raut wajah Hugh Jackman. Luar biasa.
Menurut rumor yang dihembuskan, para pemain ini menyanyikan naskahnya benar-benar dilakukan saat pengambilan gambar, jadi tidak dengan track yang direkam terpisah. Nah, kebayang pastinya usaha yang dikeluarkan oleh para pemeran untuk memecah fokus antara bernyanyi dan memainkan ekspresi wajah. Sungguh mengaduk perasaan.
Pada saat menonton film ini, Mustafa berdecak kagum atas keindahan di layar lebar sekaligus berdecak heran karena tidak sedikit penonton yang meninggalkan kursi bioskop di tengah-tengah pertunjukkan. Tetapi Mustafa tetap berusaha untuk positif dan tidak menghakimi, ya karena waktu sudah larut, mungkin mereka ingin segera pulang ke rumah agar tak ketinggalan menyaksikan Asmiranda. Uw yeah!

No comments:
Post a Comment